DARI 30 SEPTEMBER HINGGA 1 OKTOBER INDONESIA BERDUKA…….. Betapa hatiku takkan pilu

Nur Fadhillah Nst 02 Oktober 2019 14:17:45 WIB

 

 Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu
Tanah air jaya sakti

Gugur bungaku di taman bakti
Di haribaan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti

Lagu Gugur Bunga karya Ismail marzuki ini memuat lirik yang menyayat hati,Sehingga siapa saja yang menyanyikannya merasakan kesedihan yang mendalam dan membuat merinding bagi yang mendengarkan.Lagu ini juga kental dengan aroma perjuangan dan pengorbanan para pahlawan saat mempertahankan Indonesia dari para penjajah dan sangat memiliki unsur sejarah.

Begitu juga dengan pengorbanan enam orang jendral dan satu orang perwira pertama TNI AD yang dibantai oleh PKI diLubang Buaya Dan tragedi yang memilukan ini dikenal dengan GESTAPU,GESTOK atau lebih sering di sebut G 30 S/PKI.G 30 S/PKI atau gerakan 30 September PKI merupakan kisah kelam di akhir September 1965 dan menjadi sejarah memilukan bagi bangsa Indonesia.

Mengulas PKI,Dibawah Pimpinan Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit,PKI adalah partai komunis yang terbesar diseluruh dunia selain tiongkok dan uni soviet.Partai Komunis Indonesia pada kala itu setidaknya mempunyai 20 juta pengikut dan pendukung.

Pada era pemerintahan presiden RI Pertama Soekarno menjalankan Demokrasi Terpimpin PKI berhasil memasuki pemerintahan resmi dengan mendapatkan posisi di Kabinet Soekarno.PKI juga Mendapatkan Dukungan dari militer yang memihak pada PKI salah satunya Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri yang merupakan Komandan Batalyon I Cakrabirawa  yang memimpin G 30 S/PKI pada tahun 1965. Untung adalah bekas anak buah Soeharto  ketika ia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo. Untung adalah Komandan Kompi Batalyon 454 dan pernah mendapat didikan politik dari tokoh PKI,Alimin.

Selain itu PKI juga Mendapat dukungan dari para Sarjana Dan Pelajar,Serikat Buruh,BTI ( Barisan Tani Indonesia),GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) Penulis dan Artis.

G 30 S PKI, Gerakan 30 September adalah upaya Kudeta yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung dengan menargetkan Tujuh Jendral.Namun pada Saat pelaksanaan Gerakan 30 September hanya enam orang Jendral yang menjadi korban keganasan PKI.

Adapun keenam Jendral menjadi korban adalah:

  • Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)

  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)

  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)

  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)

  • Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)

  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)

Sedangkan Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi Target utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya,kapten Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Selain itu Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena) yang sedang menjalankan tugas menjadi korban keganasan PKI. Dr.J.LEIMENA merupakan tetangga dari Jenderal TNI Abdul Harris Nasution peristiwa itu pun dimulai, ketika itu K.S Tubun kebagian tugas jaga pagi. Maka, ia menyempatkan diri untuk tidur. Para penculik pun datang, pertama-tama mereka menyekap para pengawal rumah Dr. J. Leimena. Karena mendengar suara gaduh maka K. Satsuit Tubun pun terbangun dengan membawa senjata ia mencoba menembak para gerombolan PKI tersebut. Malang, gerombolan itu pun juga menembaknya. Karena tidak seimbang  K. Satsuit Tubun pun tewas seketika setelah peluru penculik menembus tubuhnya.

Sehingga jumlah korban keganasan pengkhianat bangsa pada tragedi G 30 S/PKI yang terjadi 54 tahun silam pada tanggal 30 September 1965 tepatnya tanggal 1 Oktober 1965 Dini hari berjumlah 10 orang.

1 Oktober, Setelah peristiwa tersebut, 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September (G 30 S/PKI). Hari berikutnya, 1 Oktober, ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.Dan juga dianggap  Hari berkabung Nasional. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Soeharto, biasanya sebuah film mengenai kejadian tersebut juga ditayangkan di seluruh stasiun televisi di Indonesia setiap tahun pada tanggal 30 September. Selain itu pada masa Soeharto biasanya tepat pada tanggal 1 Oktober dilakukan upacara bendera di Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya dan dilanjutkan dengan tabur bunga di makam para pahlawan revolusi di TMP Kalibata.Hal ini merupakan upaya agar seluruh Rakyat Indonesia selalu mengingat dan mengenang peristiwa kelam para Jendral,dan mengecam tindakan biadab para PKI pengkhianat bangsa.agar mereka tidak pernah lagi tumbuh di bumi Pertiwi kita.

Dan Untuk mengenang jasa para korban G 30 S /PKI melalui Keppres No. 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965 sejumlah korban yang gugur pada tanggal 30 september malam 1 Oktober Dini hari di beri gelar Pahlawan Revolusi.Dan Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, gelar ini diakui juga sebagai Pahlawan Nasional.

Dari berbagai sumber

Komentar atas DARI 30 SEPTEMBER HINGGA 1 OKTOBER INDONESIA BERDUKA…….. Betapa hatiku takkan pilu

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silahkan datang / hubungi perangkat desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukan NIK dan PIN

Komentar Terkini

Info Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutube

Lokasi Tambak Cekur

tampilkan dalam peta lebih besar

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung